OLEH : M. ZAENAL ARIFIN, ST[1]

 

Istilah Incenerator barangkali sudah cukup dikenal masyarakat, namun secara detail barangkali belum terpahami dengan baik. Incenerator adalah sebuah alat, sedangkan Insinerasi (incineration) atau  pembakaran sampah adalah teknologi pengolahan sampah yang melibatkan pembakaran bahan organik. Hasil kerja insenerasi adalah abu, gas sisa hasil pembakaran, partikulat, dan panas. Gas yang dihasilkan mengandung polutan, maka harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dilepas ke atmosfer, sedangka panas yang dihasilkan bisa dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik.  

Rumah sakit, biasanya menggunakan insenerator untuk menangani limbah padat yang di produksinya. Namun insenerator saat ini tidak hanya di gunakan di rumah sakit, beberapa kawasan bahkan perumahan diantaranya telah menggunakan insenerator sampah untuk penanganan limbah. Menurut Widyatmoko, dkk (2002)[2] bahwa teknologi incenerator dapat mengurangi volume sampah hingga 97% dan bobot sampah hingga 70%, sedangka panas hasil pembakaran dapat dimanfaatkan untuk energi.

Hasil pengamatan yang dilakukan oleh Bidang Litbang Pada Bappeda Kota Magelang terkait penggunakaan insenerator sebagai salah satu alat pengolahan sampah yang dilakukan pada saat akan melaksanakan kegiatan penelitian manajemen pengelolaan sampah di Kota Magelang, diketahui bahwa beberapa perumahan di yogyakarta memanfaatkan insenerator untuk penanganan sampah. Namun demikian penelitian disertasi berjudul “Proses Pembakaran Sampah Kota Sebagai Alternatif Sumber Energi”, dari Edy Wiyono Dosen Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) menyarankan bahwa “Agar kinerja insinerator berjalan efektif dan efisien Edy menyarankan untuk dilakukan pemilahan sampah segar berdasarkan komponennya. Selain itu juga perlu dilakukan proses pencacahan sampah segar yang dijadikan sebagai umpan pembakaran dan kadar air pada sampah yang akan dibakar tidak lebih dari 25%.”[3]

Pengalaman di Kota Depok, salah satu metoda alternatif penanganan pengelolaan sampah dengan skala kecil dapat diterapkan di tingkat RT/ RW, Kelurahan dan Kecamatan dengan pola pembakaran berteknologi (Incinerator Mini). Pada prinsipnya sampah dapat dikelola dengan pembakaran yang ramah lingkungan, meskipun terkadang kita belum bisa menerima teknologi ini, karena masih menganggap biaya mahal dan anggapan sementara masih mempunyai dampak lingkungan. Penulis mengajak marilah kita mencoba untuk “ Berfikir Global – namum Bertindak Lokal “ artinya kita dapat melihat majunya teknologi tetapi kita dapat melakukan yang ada dihadapkan kita ada, salah satu pilihannya yaitu dengan teknologi pembakar sampah “ pilot project ” skala kecil atau sedang yang telah diproduksi di Indonesia. [4]

Teknologi incinerator merupakan  salah satu alat pemusnah sampah yang dilakukan dengan pembakaran pada suhu tinggii dan terpadu, aman bagi lingkungan, pengoperasiannya mudah dan aman, karena keluaran emisi yang dihasilkan berwawasan lingkungan. Pengunaan incenerator dapat memenuhi persyaratan dari Kementerian Lingkungan Hidup sesuai dengan Kep. Men LH No.13/ MENLH/3/1995. 

Atas penggunaan Incenerator, keuntungan yang dirasakan pemkot Depok adalah sebagai berikut :

a)   Tidak diperlukan lahan besar,

b)   Mudah dalam pengoperasian;

c)    Hemat energi, minyak tanag;

d)   Temperatur tidak terlalu tinggi (800-1.1000 c)

e)   Tidak terdapat asap sisa pembakaran yang mencemari lingkungan

f)     Tidak bising dan kemasan kompak per unit

g)   Tidak menimbulkan panas pada tabung pembakar

h)   Sisa abu dapat dimanfaatkan menjadi produksi batu bata/bataco

 

Tidak mungkinkah hal ini diuji cobakan di Kota Magelang? Yang produksinya sampah saat ini tidak lagi bisa dibilang sedikit? Semoga dapat menjadi bahan pemikiran.



 

 



[1] STAF Kantor Penelitian, Pengembangan dan Statistik Kota Magelang, calon peneliti

[2] Widyatmoko, H, Dr rer.nat dan Moerdjoko Sintorini, MM, MS,Dra (2002), Menghindari, Mengolah dan Menyingkirkn sampah, Jakarta, Abdi Tandur

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh